Tongkat dan Kayu Jadi Tanaman

Bukan lautan, hanya kolam susu. Air dan batu jadi tanaman. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat dan Kayu Jadi tanaman....sepenggal syair lagu koes plus yang melegendaris...sepertinya tepat sekali dengan alam SEMESTA negeri Indonesia yang kita sayangi, kita banggakan dan kita syukuri.  Bagaimana tidak,  sekeliling kita dalam situasi media tumbuh dan iklim ekstrim apapun, tanaman dapat tumbuh dan survive.  Luar biasa Allah menyayangi umat manusia Indonesia.  Sementara di negeri seberang, harus kreatif mengadakan tanah, kreatif dan inovatif untuk bisa menumbuhkan tanaman, harus berusaha sekuat tenaga mengkondisikan iklim agar tanaman bisa hidup.

Namun, kondisi iklim Indonesia dan tanah yang subur,  menjadikan kita manja, nyaman, santai dan menunggu kebaikan alam semesta yang seolah olah duduk diam dan tidur, makanan akan datang dengan sendirinya.  Alhasil  kita menjadi malas, enggan berusaha dan bekerja, memilih sesuatu yang instan, short cut/jalan pintas sampai pada suatu saat bisa melakukan hal yang ekstrim dengan rakusnya mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperdulikan masa depan generasi kedepan,  anak dan cucu nya. Penebangan liar, pembakaran hutan, tambang batu secara serakah,  membuang sampah seenaknya,  konsumerisme plastik yang tak terkendali  dan pola hidup tidak  sehat yang tidak bisa dipakai sebagai teladan antar lain meludah sembarang tempat,  menggantikan teras rumah dengan cor-coran semen, buang sampah ke sungai,  konsumtif makanan dan minuman instan, menembak burung, menggunakan lampu secara berlebihan,  penggunaan ac yang tidak terkontrol dan masih banyak lagi cara hidup modern yang jauh dari peduli alam semesta.  Zona nyaman bahwa alam semesta di indonesia sudah menyediakan segala kemudahan masih memanjakan kita penghuni negeri yang peluh dengan kolam susu.
Alhasil, fenomena periode turunnya hujan yang 20 tahun lalu bisa selama 6-7 bulan, Sekarang pun memasuki bulan november yang biasa menjadi sebutan november rain, mayoritas sekeliling kita masih merindukan november rain yang sesungguhnya agar  terwujud. Musim hujan kapan mulai dan sampai kapan, semua masih menjadi misteri. Fenomena alam sulit ditebak, di kawasan lain banjir bandang, di satu daerah kering kerontang.  Sebagian umat manusia berebutan air, sebagiannya berfoya foya akan air.

 Kawasan yang berlabel milik perhutani,  sejauh mata memandang hanyalah bukit gundul karena manfaatnya berubah menjadi kebun rakyat dengan menanam jagung serta komoditas tanaman umur pendek, saat panen, tak tampak nuasa hutan sama sekali.

Pola Hidup dan pola pikir yang sesaat dengan dimanjakan alam semesta negeri Indonesia yang subur ini menjebak generasi kini hanya untuk hidup saat ini tanpa peduli akan generasi anak cucu 20 tahun ke depan. Suatu saat tidak mustahil akan dibangun sebuah museum tanaman langka dan kawasan langka karena telah musnah oleh keserakahan umat manusia saat ini.

Tidak ada kata terlambat,  mulai dari sekarang,  oleh saya dan dalam semua sisi kehidupan saya sebagai bagian yang mengambil tugas menciptakan alam semesta masa depan yang hijau, bersih dan  subur, slogan gemah ripah loh jinawi,  INDONESIA HIJAU, sepenggal doa dan ikhtiar.
3 Nov 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hutan Tambak Petak 16 Lereng Gunung Lawu Utara..........